Bertempat di pelataran Musem Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, secara rutin diadakan pengajaran aksara Jawa kuna (kuno).
Komunitas belajar ini dibentuk oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan atas dasar keprihatinan terhadap rendahnya minat masyarakat terhadap budaya aksara Jawa kuna. Tidak dipungut bayaran apa pun untuk pembelajaran ini.
Bahasa Jawa kuna digunakan untuk membaca penanda yang dapat ditemukan pada candi dan benda purbakala. Terutama pada peninggalan kerajaan Majapahit. Pertemuan pada setiap Sabtu dalam minggu pertama dan ketiga ini fokus mengkaji berbagai bahasa Jawa kuna yang pernah populer pada abad ke empat hingga ke-16, yaitu abjad Pallawa, Sansekerta, hingga Jawa baru.
Selain itu, ada juga yang belajar simbol-simbol yang kerap dijumpai pada bebatuan peninggalan kerajaan Majapahit. Diksi aksentuasi juga turut dipelajari. Dengan demikian diharapkan para generasi muda dapat terlibat membaca makna simbol-simbol, meneliti, dan mempelajari temuan benda purbakala.
Menurut seorang relawan pengajar Rakai Hino, sudah menjadi kewajiban untuk melestarikan kebudayaan ini. Bahasa Jawa kuna atau hipnugraf tidak sulit untuk dipahami, namun dibutuhkan ketelitian dan ketekunan. Jika tidak diajarkan, tentu akan punah tergerus zaman. Padahal, aksara dan bahasa ini justru dipelajari di negara Belanda.
Lokasi pelajaran di dalam museum memudahkan peserta mempraktikkan ilmu yang dipelajari. Biasanya usai mendapat materi, para peserta kursus langsung melihat benda-benda purbakala dan membaca simbol-simbolnya.
" saya tidak pernah gagal, tapi saya belajar bagaimana cara menghadapi kegagalan ".(nix)
Jumat, 24 Februari 2012
Wayang Kaya Unsur Budaya Universal
Wayang ternyata kaya dengan unsur - unsur budaya universal. Unsur budaya universal melekat dalam wujud ide atau kepengetahuan, sosial, dan fisik.
Penggiat Budaya di Yayasan Kertagama Jakarta, Sri Tedy Rusdy menjelaskan, wayang mengandung tujuh isi universal yakni sistem religi, sosial, pengetahuan, ekonomi, bahasa, seni, dan teknologi.
Sistem religi dalam wayang,lanjutnya, membentang sejak sistem religi animisme-dinamisme,fetisisme,tata alam sakral, Hindu,hingga Islam. "Bahkan sistem religi ini bisa mengatasi konsepsi-konsepsi agama," papar Sri dalam seminar dan pagelaran Wayang Purwa di Yogyakarta, Rabu(25/1)
Ia melanjutkan, sistem sosial dalam wayang terepresentasikan dalam sistem tata pemerintahan dan sistem tata masyarakat. Kemampuan dalang dalam memanfaatkan peluang sangat potensial untuk wahana kesadaran masyarakat dalam memaknai demokrasi, egalitarianisme, dan isu-isu terkini.
Wayang pun, katanya lagi, mengajarkan masyarakat untuk menguasai pengetahuan dan teknologi. "Kita bisa melihat cerita Gatot Koco yang bisa terbang, Antareja yang masuk bumi,dan lainnya," tambah Sri.
Bahkan, isu gender dalam pendistribusian sistem mata pencaharian pun juga terinspirasi oleh tokoh Srikandi, Drupadi, dan tokoh perempuan lainnya. Sementara itu kaitannya dengan unsur bahasa, wayang pun menggunakan bahasa multilingual. Ada bahasa Jawa kuno, Jawa baru, bahkan bahasa asing.
Mengingat wayang kaya akan unsur budaya universal, maka wayang mampu mengatasi persoalan global saat ini. Wayang pun dilestarikan karena telah diresmikan UNESCO pada tahun 2003 sebagai warisan dunia. "Wayang sebagai sumber inspirasi kearifan lokal di tengah budaya kontemporer," tutup Sri.
Penggiat Budaya di Yayasan Kertagama Jakarta, Sri Tedy Rusdy menjelaskan, wayang mengandung tujuh isi universal yakni sistem religi, sosial, pengetahuan, ekonomi, bahasa, seni, dan teknologi.
Sistem religi dalam wayang,lanjutnya, membentang sejak sistem religi animisme-dinamisme,fetisisme,tata alam sakral, Hindu,hingga Islam. "Bahkan sistem religi ini bisa mengatasi konsepsi-konsepsi agama," papar Sri dalam seminar dan pagelaran Wayang Purwa di Yogyakarta, Rabu(25/1)
Ia melanjutkan, sistem sosial dalam wayang terepresentasikan dalam sistem tata pemerintahan dan sistem tata masyarakat. Kemampuan dalang dalam memanfaatkan peluang sangat potensial untuk wahana kesadaran masyarakat dalam memaknai demokrasi, egalitarianisme, dan isu-isu terkini.
Wayang pun, katanya lagi, mengajarkan masyarakat untuk menguasai pengetahuan dan teknologi. "Kita bisa melihat cerita Gatot Koco yang bisa terbang, Antareja yang masuk bumi,dan lainnya," tambah Sri.
Bahkan, isu gender dalam pendistribusian sistem mata pencaharian pun juga terinspirasi oleh tokoh Srikandi, Drupadi, dan tokoh perempuan lainnya. Sementara itu kaitannya dengan unsur bahasa, wayang pun menggunakan bahasa multilingual. Ada bahasa Jawa kuno, Jawa baru, bahkan bahasa asing.
Mengingat wayang kaya akan unsur budaya universal, maka wayang mampu mengatasi persoalan global saat ini. Wayang pun dilestarikan karena telah diresmikan UNESCO pada tahun 2003 sebagai warisan dunia. "Wayang sebagai sumber inspirasi kearifan lokal di tengah budaya kontemporer," tutup Sri.
Kerajaan Melayu Kuno Sumatra Diduga Lebih Tua Daripada Sriwijaya
Prasasti Melayu Kuno tidak banyak diungkap. Padahal beberapa kalangan pakar dari bidang sejarah, arkeologi, maupun etnografi linguistik, menduga Kerajaan Melayu Kuno di Sumatra adalah kerajaan yang lebih tua daripada Sriwijaya, di awal-awal abad tujuh Masehi.
"Logikanya, prasasti Sriwijaya menggunakan bahasa Melayu Kuno," tutur Dr. Ninie Susanti Y., ahli efigrafi dari Fakultas Ilmu Budaya UI dalam ceramah umum arkeologi yang bertajuk 'Menelisik Prasasti Melayu Kuno' bersama Masyarakat Arkeologi Indonesia di Museum Tengah Kebun, Jakarta Selatan, Selasa (7/2).
Berita tertua mengenai Melayu Kuno didapatkan dari berita Dinasti Tang di China, yang menulis kedatangan utusan dari Mo-lo-yeu (dibaca Melayu), tercatat pada tahun 644 dan 645.
Gambaran mengenai Melayu Kuno selalu tak terpisahkan dengan Sriwijaya. Menurut Ninie, ketika bicara Melayu tidak mungkin mengesampingkan peninggalan Kerajaan Sriwijaya pula. Keduanya merupakan kerajaan maritim yang sibuk dengan aktivitas perdagangan sehingga tidak meninggalkan prasasti-prasasti sebanyak kerajaan di Jawa.
"Mungkin benar kerajaan ini sudah sangat tua. Namun memang bukti-bukti yang sahih belum kita temukan," ujarnya. Tinjauan prasasti memang merupakan bukti paling otentik untuk mengungkap sejarah. Prasasti pun akan bercerita mengenai banyak hal. Makin banyak prasasti terdata, makin banyak sejarah yang dapat terungkap.
Meski demikian, bahkan sebagai seorang efigraf, Ninie mengakui, ia tidak bisa bertumpu pada prasasti-prasasti saja. Pendekatan baru ditemukan, mempergunakan data bantu dari bidang ilmu linguistik.
Persebaran bahasa Melayu Kuno ada di berbagai daerah di Pulau Sumatra, Jawa, hingga seluruh wilayah Nusantara. Juga di Semenanjung Malaya, Filipina, dan Thailand.
Tetapi berdasarkan penelitian leksikostatistik (mempelajari asal-usul suatu bahasa) oleh Prof. Harimurti Kridalaksana, dikaji serta disimpulkan bahwa muasal bahasa Melayu Kuno dari Sumatra. Sebab di Sumatra-lah, dialek regional bahasa Melayu terbanyak ditemukan.
Karena itu, Ninie berharap lahan penelitian sejarah Melayu Kuno yang masih terbuka lebar ini bisa ditekuni. Ia mengistilahkan, penelitian harus bersifat 'keroyokan' dari segala disiplin terkait, tak hanya dari satu sisi atau berjalan masing-masing.
"Saya masih mempunyai keyakinan. Belum tentu sejarah Melayu (Kuno) itu gelap. Mungkin hanya belum ada penelitian mendalam, penelitian tentang Melayu Kuno harus lebih digencarkan," tambahnya.
"Logikanya, prasasti Sriwijaya menggunakan bahasa Melayu Kuno," tutur Dr. Ninie Susanti Y., ahli efigrafi dari Fakultas Ilmu Budaya UI dalam ceramah umum arkeologi yang bertajuk 'Menelisik Prasasti Melayu Kuno' bersama Masyarakat Arkeologi Indonesia di Museum Tengah Kebun, Jakarta Selatan, Selasa (7/2).
Berita tertua mengenai Melayu Kuno didapatkan dari berita Dinasti Tang di China, yang menulis kedatangan utusan dari Mo-lo-yeu (dibaca Melayu), tercatat pada tahun 644 dan 645.
Gambaran mengenai Melayu Kuno selalu tak terpisahkan dengan Sriwijaya. Menurut Ninie, ketika bicara Melayu tidak mungkin mengesampingkan peninggalan Kerajaan Sriwijaya pula. Keduanya merupakan kerajaan maritim yang sibuk dengan aktivitas perdagangan sehingga tidak meninggalkan prasasti-prasasti sebanyak kerajaan di Jawa.
"Mungkin benar kerajaan ini sudah sangat tua. Namun memang bukti-bukti yang sahih belum kita temukan," ujarnya. Tinjauan prasasti memang merupakan bukti paling otentik untuk mengungkap sejarah. Prasasti pun akan bercerita mengenai banyak hal. Makin banyak prasasti terdata, makin banyak sejarah yang dapat terungkap.
Meski demikian, bahkan sebagai seorang efigraf, Ninie mengakui, ia tidak bisa bertumpu pada prasasti-prasasti saja. Pendekatan baru ditemukan, mempergunakan data bantu dari bidang ilmu linguistik.
Persebaran bahasa Melayu Kuno ada di berbagai daerah di Pulau Sumatra, Jawa, hingga seluruh wilayah Nusantara. Juga di Semenanjung Malaya, Filipina, dan Thailand.
Tetapi berdasarkan penelitian leksikostatistik (mempelajari asal-usul suatu bahasa) oleh Prof. Harimurti Kridalaksana, dikaji serta disimpulkan bahwa muasal bahasa Melayu Kuno dari Sumatra. Sebab di Sumatra-lah, dialek regional bahasa Melayu terbanyak ditemukan.
Karena itu, Ninie berharap lahan penelitian sejarah Melayu Kuno yang masih terbuka lebar ini bisa ditekuni. Ia mengistilahkan, penelitian harus bersifat 'keroyokan' dari segala disiplin terkait, tak hanya dari satu sisi atau berjalan masing-masing.
"Saya masih mempunyai keyakinan. Belum tentu sejarah Melayu (Kuno) itu gelap. Mungkin hanya belum ada penelitian mendalam, penelitian tentang Melayu Kuno harus lebih digencarkan," tambahnya.
Kecanggihan TIK Dapat Lindungi Pengetahuan Tradisional
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia diharapkan dapat melindungi pengetahuan tradisional. Dengan demikian kecanggihan TIK tidak mengancam pengetahuan tradisional yang berkembang di masyarakat.
Hal ini ditegaskan Kepala Lembaga Sandi Negara, Mayjen Djoko Setiadi di Universitas Gadjah Mada Yogya. Djoko menjelaskan pemanfaatan TIK di masyarakat luas bukan semata menyangkut persoalan teknis, tapi erat kaitannya dengan aspek sosial budaya masyarakat.
Ia pun menyayangkan, pemanfaatan TIK untuk pelestarian pengetahuan tradisional ini masih terbatas dilakukan. Padahal kemajuan TIK justru dapat memberi dukungan pelestarian nilai-nilai tradisional.
"Seperti di Yogyakarta, pemanfaatan TIK yang terbatas bisa-bisa mengancam pengetahuan tradisional yang beragam dan menarik," katanya.
Masyarakat sebagai pelaku hendaknya menyadari bahwa perkembangan TIK hendaknya diiringi perubahan arah perkembangan kebudayaan masyarakat ke arah informasi berbasis pengetahuan. Selain itu, masyarakat secara mental kultural siap menerima hadirnya sistem atau teknologi baru sehingga tidak memunculkan keterkejutan budaya (culture shock).
Hal ini ditegaskan Kepala Lembaga Sandi Negara, Mayjen Djoko Setiadi di Universitas Gadjah Mada Yogya. Djoko menjelaskan pemanfaatan TIK di masyarakat luas bukan semata menyangkut persoalan teknis, tapi erat kaitannya dengan aspek sosial budaya masyarakat.
Ia pun menyayangkan, pemanfaatan TIK untuk pelestarian pengetahuan tradisional ini masih terbatas dilakukan. Padahal kemajuan TIK justru dapat memberi dukungan pelestarian nilai-nilai tradisional.
"Seperti di Yogyakarta, pemanfaatan TIK yang terbatas bisa-bisa mengancam pengetahuan tradisional yang beragam dan menarik," katanya.
Masyarakat sebagai pelaku hendaknya menyadari bahwa perkembangan TIK hendaknya diiringi perubahan arah perkembangan kebudayaan masyarakat ke arah informasi berbasis pengetahuan. Selain itu, masyarakat secara mental kultural siap menerima hadirnya sistem atau teknologi baru sehingga tidak memunculkan keterkejutan budaya (culture shock).
Senin, 13 Februari 2012
5 IKRAR BARISAN PERTAHANAN MASYARAKAT ADAT DAYAK

1. BARISAN PERTAHANAN MASYARAKAT ADAT DAYAK (BPMAD) SETIA DAN TAAT KEPADA PANCASILA DAN UNDANG - UNDANG DASAR (UUD) 1945, BHINEKA TUNGGAL IKA DAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI).
2. BARISAN PERTAHANAN MASYARAKAT ADAT DAYAK (BPMAD)MENJUNJUNG TINGGI DAN MENGAWAL FALSAFAH HIDUP HUMA BETANG SERTA MEMPERTAHANKAN HARKAT MARTABAT DAN HAK - HAK MASYARAKAT ADAT.
3. BARISAN PERTAHANAN MASYARAKAT ADAT DAYAK (BPMAD)MEMPERJUANGKAN DAN MENINGKATKAN TARAF HIDUP UNTUK MENCAPAI KEMAKMURAN MASYARAKAT ADAT.
4. BARISAN PERTAHANAN MASYARAKAT ADAT DAYAK (BPMAD)IKUT MENGANTISIPASI DAN MENDUKUNG APARAT KEAMANAN DALAM MENGANTISIPASI GANGGUAN KEAMANAN DI DAERAH PERBATASAN.
5. BARISAN PERTAHANAN MASYARAKAT ADAT DAYAK (BPMAD)MENDUKUNG PELAKSANAAN TUGAS DAMANG KEPALA ADAT DALAM MENEGAKAN HUKUM ADAT DAN MASYARAKAT ADAT KALIMANTAN TENGAH.
Selasa, 27 Desember 2011
Surat dari Nabi Muhammad SAW kepada Biarawan St. Catherine’s Monastery

Pada tahun 628 Nabi Muhammad SAW mengeluarkan Piagam Anugerah kepada biarawan St. Catherine Monastery di Mt. Sinai. Berisi beberapa klausul yang melingkupi aspek-aspek hak asasi manusia termasuk perlindungan bagi umat Kristen, kebebasan beribadah dan bergerak, kebebasan untuk menunjuk hakim-hakim dan menjaga property mereka, pembebasan dari wajib militer, dan hak untuk dilindungi dalam perang. Image of Patent from Prophet Muhammad to the Christians of St. Catherine’s Monastery, Mt. Sinai Berikut ini terjemahan dalam bahasa Inggris atas dokumen tersebut: “This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them. Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by Allah! I hold out against anything that displeases them. No compulsion is to be on them. Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries. No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims’ houses. Should anyone take any of these, he would spoil God’s covenant and disobey His Prophet. Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate. No one is to force them to travel or to oblige them to fight. The Muslims are to fight for them.
If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray. Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants. No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world).” TERJEMAHAN: Ini adalah pesan dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai perjanjian bagi siapapun yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, bahwa kami mendukung mereka. Sesungguhnya saya, para pelayan, para penolong, dan para pengikut saya membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah penduduk saya; dan karena Allah! Saya bertahan melawan apapun yang tidak menyenangkan mereka. Tidak ada paksaan yang dapat dikenakan pada mereka. Sekalipun oleh para hakim-hakim mereka, maka akan dikeluarkan dari pekerjaan mereka maupun dari para biarawan-biarawan mereka, maka akan dikeluarkan dari biara mereka. Tidak ada yang boleh menghancurkan rumah ibadah mereka, atau merusaknya, atau membawa apapun daripadanya ke rumah-rumah umat Islam. Jika ada yang mengambil hal-hal tersebut,maka ia akan merusak perjanjian Allah dan tidak menaati Rasul-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutu saya dan mendapatkan piagam keamanan melawan apapun yang mereka benci.
Tidak ada yang dapat memaksa mereka untuk bepergian atau mengharuskan mereka untuk berperang. Umat Islam wajib bertempur untuk mereka. Jika ada perempuan Kristen menikahi pria Muslim, hal ini tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan perempuan itu. Dia tidak dapat dilarang untuk mengunjungi gerejanya untuk berdoa. Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang memperbaikinya dan menjaga perjanjian-perjanjian sakral mereka. Tidak ada dari antara bangsa (Muslim) yang boleh tidak mematuhi perjanjian ini hingga Hari Akhir (akhir dunia). Pada tahun 1517, piagam asli diambil oleh Sultan Selim I dari Turki dan saat ini berada di Musium Topkapi di Istanbul, akan tetapi Sultan memberikan salinan atas piagam tersebut kepada para biarawan, dan melegalisir isi piagam tersebut. Dari koleksi besar gulungan kuno dan modern yang diawetkan di perpustakaan biara, jelas bahwa Perjanjian Nabi, apakah asli maupun salinan, memberikan hak dan perlindungan bagi umat Kristen. Video piagam tersebut dapat dilihat disini: PROPHET MUHAMMED’s Letter to the Monks of St. Catherine Monastery from Haqqani OSMANLI on Vimeo.
Sumber: http://st-katherine.net/en/index.php?option=com_content&task=view&id=20&Itemid=65 http://vimeo.com/8364895 http://www.islamic-study.org/saint_catherine_monastery.htm -Esther Wijayanti -
http://m.kompasiana.com/post/sejarah/2011/09/06/surat-dari-nabi-muhammad-saw-kepada-biarawan-st-catherines-monastery/
Minggu, 20 November 2011
HINDU DAN KAHARINGAN
Islam, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha adalah 5 agama besar yang resmi di akui oleh Negara Indonesia pada jaman Orde Baru yang berpengaruh juga terhadap masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. Karena Kaharingan merupakan sebuah aliran kercayaan, maka mereka harus memiih salah satu dari kelima agama yang di akui oleh Negara untuk juga bisa mendpatkan pengakuan resmi oleh Pemerintah. Dan akhirnya Hindu lah yang dipilih Kaharingan untuk dapat mewadahi kepercayaan asli masyarakat Dayak dikarenakan adanya persamaan mendasar antara keduanya, khususnya dengan kesamaan masyarakat bali sebagai penganut mayoritas agama Hindu di Indonesia. Persamaan antara Agama hindu dan Kaharingan adalah:
- Reinkarnasi : didalam Hindu dan Kaharingan terdapat kepercayaan tentang adanya reinkarnasi yaitu roh- roh yang sudah meninggal dapat lahir kembali, bisa kembali menjadi manusia, binatang, tumbuhan, atau pada benda- benda mati, seperti bebatuan, sungai, puncak, gunung- gunung, dan sebagainya. Pernah saya bersama Kakek masuk kedalam hutan untuk mencari tumbuhan yang nanti akan dijadikan sebagai ramuan obat penyakit, kakek bilang sebelum kita memetik dedaunan, akar- akaran atau apapun itu, kita harus meminta ijin terlebih dahulu, karena menurutnya setiap apa yang ada di alam ini memiliki roh dan penunggunya. Bila tidak meminta ijin, maka nantinya roh tersebut bisa murka, dan ramuan yang kita petik tidak akan berfungsi atau manjur.
- Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur : dari perjalanan yang pernah saya lalui khususnya dari daerah murung raya, sampai dengan wilayah kotawaringin barat dan sekitarnya, terdapat tiga macam tradisi dalam memperlakukan jenazah yang sudah meninggal dalam kepercayaan kaharingan, yaitu dikubur dalam tanah, disemayamkan diatas tanah atau pohon didalam hutan dan dikremasi. Tapi suku Dayak Ngaju biasanya jenazahnya dikuburkan terlebih dahulu, setelah beberapa tahun digali lalu di bakar. Upacara ini memiliki persamaan dengan di Bali di mana jenazah orang yang meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah, atau disemayamkan di atas tanah. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. Sedangkan di Bali arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga).
- Pemujaan kepada alam : hutan adalah alam yang paling berarti dan dibanggakan oleh masyarakat suku Dayak, manfaat hutan bagi suku Dayak adalah sebagai tempat tinggal Dewa penguasa hutan dan arwah nenek moyang yang melindungi manusia. Selain itu hutan juga sebagai sumber mata pencahrian bagi kehidupan karena dapat memberikan kebutuhan sandang dan pangan, seperti berburu binatang dan pencarian makanan di hutan. Sedangkan di bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam masih berjalan lestari sampai saat ini, seperti upacara Tawur Agung, Panca Wali Krama, Eka Dasa Rudra, dan sebagainya.
Setelah bergabung dengan agama Hindu Dharma, maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan, yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu Dharma. Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di Indonesia.
Setelah reformasi yang menggantikan keruntuhan orde baru, mulai lah muncul perpecahan- perpecahan diantara umat Hindu kaharingan. ada yang masih tetap ingin bergabung dengan agama Hindu, da ada juga yang menyatakan bahwa Hindu Kaharingan adalah agama yang berdiri sendiri dan terpisah dari agama Hindu Dharma. Saat ini mereka yang menganggap tidak tergabung dalam agama hindu telah berjuang memperjuangkan kepada Pemerintah agar Kaharingan bisa diakui sebagai agama resmi oleh Negara Indonesia, terlihat dari beberapa majelis wadah umat hindu Kaharingan seperti Majelis Hindu Kaharingan dan Badan Agama kaharingan Dayak Indonesia (BAKDI).
ntara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. Pihak yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Di pihak lain, sebagian dari mereka menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan.
Konsep-Konsep Upacara dalam Ajaran Hindu Dharma
Di dalam ajaran agama Hindu Dharma, upacara-upacara keagamaan terbagi dalam lima kelompok besar, atau sering disebut dengan Panca Yadnya. Kelima kelompok hesar tersebut adalah:
a) Dewa Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh manifestasinya (perwujudan Tuhan dalam bentuk dewa-dewa);
b) Rsi Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi, pandita, nabi atau kaum ulama, karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci kepada manusia.
c) Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran manusia
d) Manusa Yadnya, yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia, seperti kehamilan, kelahiran, perkawinan, dan kematian.
e) Bhuta Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta, seperti gunung, laut, sungai, dan sebagainya. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan manusia, yaitu makhluk halus, binatang dan tumbuhan.
Di samping konsep Panca Yadnya, ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana, yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Upacara adalah sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di dalam Tri Hita Karana tersebut. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan; upacara Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan manusia; sedangkan Bhuta Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta. Dengan demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita Karana.
Upacara-upacara dan hari-hari besar keagamaan dalam agama-agama tradisi besar, yang sering disebut dengan hari raya, biasanya diperirtgati oleh seluruh umatnya dan berbagai suku bangsa di dunia tanpa kecuali. Di dalam agama Islam dikenal hari raya Maulud Nabi, Idul Adha, dan Idul Fitri; di dalam agama Kristen dan Katholik dikenal hari raya Natal dan Paskah; dan di dalam agama Budha dikenal hari raya Waisak. Berbeda dengan agama-agama tradisi besar lainnya, agama Hindu tidak mengenal doktrin yang menegaskan adanya hari-hari besar keagamaan yang harus diyakini dan diperingati oleh umatnya dari berbagai suku bangsa di dunia. Hari-hari besar keagamaan Hindu Dharma ditentukan sepenuhnya oleh kebijakan lokal dengan berdasarkan konsep Desa, Kala, Patra (Tempat, Waktu dan Kondisi). Dengan mengacu pada konsep Desa, Kala, Patra tersebut, maka peringatan hari-hari besar keagamaan Hindu antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya menjadi berbeda-beda, misalnya umat Hindu keturunan India mengenai hari raya Dipavali, umat Hindu Suku Bali mengenai hari raya Galungan Kuningan, dan umat Hindu Suku Tengger mengenal hari raya Kasada. Penekanan ajaran Hindu Dharma tidak ada penyeragaman hari-hari raya besar keagamaan, yang harus diakui oleh umat-umat Hindu di luar Bangsa India, tetapi pada penghayatan terhadap makna dan hakekat dan upacara-upacara tersebut, yang dalam hal ini telah dijabarkan di atas, yaitu dalam konsep panca yadnya, Tri hita karana, dan desa kala patra.
Upacara Kematian Suku Dayak Dilihat dan Sudut Pandang Agama Hindu Dharma
Di dalam ajaran Hindu Dharma, manusia dan juga benda-benda fisik lainnya di alam semesta, terdini dan lirna unsur dasar, atau yang disebut dengan Panca Maha Bhuta, yaitu unsur air, api, angin, tanah, dan akasa (hampa udara/ruang kosong). Apabila seseorang meninggal dunia, maka unsur-unsur penyusun tubuhnya kembali ke unsur-unsur dasar tersebut. Kematian Seseorang menimbulkan kewajiban bagi orang-orang yang masih hidup untuk melakukan serangkaian upacara untuk mempenlakukan jenazah, yang mana tujuannya adalah agar badan jasmaninya dapat segera dikembalikan ke unsur Panca Maha Bhuta dan atmannya dapat segera bersih dan kembali kepada Tuhan. Usaha untuk mengembalikan tubuh orang yang telah meninggal kepada unsur Panca Maha Bhuta dan atmannya dapat segera bersih dan kembali kepada Tuhan. Usaha untuk mengembalikan tubuh orang yang telah meninggal kepada unsur Panca Maha Bhuta dapat dilakukan dengan cara dikremasi (kembali ke unsun api), dikubur di dalam tanah (kembali ke unsur tanah), dilarung ke sungai atau laut (kembali ke unsun air), atau disemayamkan di atas tanah/pohon (kembali ke unsur udana). Semua jenis upacara kematian tersebut adalah benar menurut pandangan Hindu apabila Dharma dihantarkan dengan upacara-upacara untuk membersihkan arwahnya dan kekotoran perbuatannya selama di dunia, agar dapat segera kembali kepada alam Ketuhanan.
Pada Suku Dayak, arwah atau atman lelahur yang telah diupacarai dengan bersemayam di puncak-puncak pegunungan. Sebagai arwah-arwah yang telah suci dan berada di alam Tuhan, mereka dapat dipanggil kembali untuk dimintai pertolongan apabila manusia, khususnya keturunannya, menemui kesulitan-kesulitan. Dalam hal ini bukan berarti mereka tidak percaya terhadap pertolongan Tuhan. Pertolongan Tuhan akan datang melalui perantara arwah leluhur yang telah disucikan tersebut. Kepercayaan terhadap kekuatan arwah leluhur ini menimbulkan upacara-upacara pemujaan kepada arwah leluhur, yang mana di dalam ajaran agama Hindu Dharma disebut dengan Pitra Yadnya.
Para misionaris agama-agama tradisi besar pada umumnya menganggap upacara pemujaan terhadap arwah leluhur sebagai sesuatu tindakan yang tidak masuk akal dan melanggar konsep pemujaan kepada Tuhan. Oleh karena itu banyak dan para misionaris agamaagarria tradisi besar di dalam melakukan “pembinaan umat” berusaha menghapuskan jenis-jenis upacara seperti ini dan masyarakat Suku Dayak. Tindakan untuk menghapus upacara-upacara pemujaan arwah leluhur tanpa memahami makna di balik upacara tersebut, sebenamya justru akan menghapuskan satu mata rantai nilai-nilai budaya Suku Dayak, namun hal-hal seperti ini pada umumnya tidak disadari oleh para misionaris.
Kepercayaan terhadap Makhluk Halus dan Roh Penunggu pada Suku Dayak Menurut Pandangan Hindu Dharma.
Upacara “pemujaan” terhadap makhluk-makhluk halus atau roh-roh penunggu adalah termasuk di dalam jenis upacara Bhuta Yadnya. Upacara Bhuta Yadnya dalam ajaran Hindu Dharma adalah bertujuan untuk membersihkan suatu tempat beserta isinya dari kekuatan negatif yang dapat menyebabkan malapetaka bagi manusia. Upacara Bhuta Yadnya sebenarnya tidak dilandasi oleh “rasa takut” terhadap makhluk-makhluk halus dan roh-roh penunggu. Makhluk-makhluk halus dan roh-roh penunggu tersebut dihayati sebagai ciptaan Tuhan juga yang mempunyai hak untuk hidup sebagaimana halnya manusia. Oleh karena itu, apabila karena sesuatu hal manusia terpaksa mengusik kehidupan mereka, misalnya membuka hutan untuk perladangan atau menebang pohon besar untuk diambil kayunya, maka dilakukan upacara untuk “meminta maaf” karena tempat tinggalnya diusik untuk kepentingan manusia. Upacara yang dilakukan di sini bukan sebagai pemujaan terhadap makhluk-makhluk halus tersebut, melainkan sebagai wujud etika dan kasih sayang (tat twam asi) terhadap sesama hidup dan usaha mewujudkan kehidupan yang harmonis. Apabila manusia mengusik tempat tinggal mereka tanpa mengindahkan etika kehidupan bersama dan kasih sayang, maka akan menimbulkan amarah bagi makhluk-makhluk tersebut. Dengan demikian mereka ganti akan mengganggu kehidupan manusia yang tidak mengindahkan etika tersebut. Hal ini yang dilihat sebagai malapetaka atau kesialan yang dialami manusia.
Penerapan Ajaran Hindu Dharma dalam Kepercayaan Kaharingan
Konsekuensi logis dari masuknya kepercayaan Kaharingan di dalam agama Hindu Dharma adalah kewajiban bagi PHDI selaku majelis tertinggi agama Hindu Dharma untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat Dayak. Di dalam pembinaan ini mereka diperkenalkan dengan sistem pantheon (ketuhanan), hari-hari besar keagamaan, serta sarana dan prasarana upacara agama Hindu Dharma. Pada kenyataannya, yang digunakan sebagai model dengan adat dan tradisi umat Hindu Suku Bali. Persoalan menjadi muncul ketika praktik-praktik keagamaan masyarakat Dayak akhirnya mulai didominasi oleh praktek keagamaan Hindu etnis Bali, seperti pembuatan tempat ibadah yang mengacu pada bentuk-bentuk pura yang ada di Bali, sesaji yang didominasi oleh bentuk sesaji Bali, pakaian adat Bali, dan sebagainya. Sementara itu sejak dahulu masyarakat Dayak telah memiliki sistem pantheon tersendiri, tempat ibadah sendiri, dan bentuk sesaji tersendiri yang berbeda jauh dengan bentuk sesaji yang ada di Bali. Untuk menjawab permasalahan ini, perlu untuk memahami bagaimana sistem pantheon, tempat ibadah, dan sesaji menurut Hindu Dharma.
a. Sistem Pantheon Hindu
Pandangan Ketuhanan di dalam Hindu tidak dapat disebut monoteisme maupun politeisme. Max Muller, Seorang peneliti Barat, menyebut pandangan Ketuhanan dalam Hindu adalah Henoteisme, yaitu kepercayaan terhadap Tuhan sebagai Yang Esa dalam Yang Banyak. Semua dewa dihayati sebagai satu wujud, yaitu sebagai Ekam (Yang Esa). Dengan pandangan ini, maka Hindu memuja satu Tuhan dalam banyak wujud. Oleh karena itu Tuhan dalam Hindu dapat disebut dengan nama dewa-dewa, seperti Brahma, Wisnu, Siwa, Durga, Sang Hyang Widhi, dan sebagainya. Berdasarkan pandangan tersebut, maka sebenarnya tidak menjadi permasalahan bila sistem pantheon kepercayaan Kaharingan masuk di dalam ajaran Hindu Dharma, di mana Tuhan juga dapat disebut dengan nama Mahatara atau Ranying Mahatalla Langit, nama dewa tertinggi Suku Dayak.
b. Rumah Ibadah
Rumah ibadah masyarakat Suku Dayak disebut dengan Rumah Panjang atau Balai Kaharingan. Masyarakat Dayak memiliki naluri untuk selalu hidup bersama. Mereka suka hidup damai dalam komunitas yang harmonis, yang terwujud dalam kehidupan bersama di dalam rumah panjang. Rumah panjang menggambarkan keakraban hubungan keluarga dan masyarakat, serta memperkuat kesatuan dalam kegiatan ekonomi. Ketika kebijakan pembangunan mendorong masyarakat pedalaman untuk berubah, maka perubahan juga terjadi pada pola tempat tinggal masyarakat Dayak, dari rumah panjang sebagai tempat tinggal komunal menjadi rumah-rurnah tunggal sebagai tempat tinggal keluarga inti. Rumah panjang akhirnya ditinggalkan, yang berarti hilang pula fungsinya untuk menjalin keakraban dan memperkuat kesatuan masyarakat Dayak. Satu-satunya sarana untuk tetap dapat menjalin keakraban dan memperkuat kesatuan adalah dengan upacara-upacara adat yang dipusatkan di rumah-rumah panjang. Oleh karena itu rumah panjang menjadi bangunan yang bernilai penting bagi masyarakat Dayak. Melihat sejarah rumah panjang yang semula untuk tempat tinggal komunal dan sekarang hanya untuk kegiatan upacara maka tidak tepat apabila PHDI menerapkan konsep pura sepenti yang ada di Bali kepada masyarakat Dayak. Pemaksaan budaya untuk mendirikan pura lengkap dengan pembagian mandala-mandalanya akan semakin menghilangkan fungsi rumah panjang tersebut. Oleh karena itu dengan tetap berlandaskan pada konsep desa, kala, dan patra, maka rumah panjang sebagai bangunan tempat ibadah untuk umat Hindu Kaharingan hendaknya tetap dipertahankan.
c. Sesaji sebagai Sarana Upacara
Sesaji merupakan sarana upacara yang hampir selalu diadakan dalam upacara keagamaan Hindu Dharma. Berdasarkan lontar Yadnya Prakerti, sesaji merupakan simbol dari tiga hal, yaitu:
1) lambang diri orang atau kelompok yang menghaturkan sesaji;
2) lambang manifestasi Tuhan yang akan dipuja;
3) lambang alam semesta.
Dengan demikian sesaji juga mengandung nilai-nilai Tri Hita Karana. Sesaji juga bukan merupakan makanan untuk disuguhkan kepada Tuhan, tetapi sebagai bahasa simbol untuk menyampaikan rasa keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Tuhan.
Sebagaimana diakui oleh PHDI, sesaji sebagai sarana upacara berbedabeda dan tiap-tiap etnis. Misalnya sesaji yang ditujukan kepada Tuhan oleh orang Bali disebut dengan Daksina, terbuat dari daun lontar yang di dalamnya diisi dengan kelapa, beras, telur, bumbu dapur, dan bunga-bungaan. Sedangkan sesaji orang Dayak disebut Sakai Pulang, yang secara harfiah berarti pohon senjata. Sesaji ini merupakan rangkaian tumbuhan hasil hutan, rotan, dan senjata. Perbedaan bentuk sesaji tidaklah dipersoalkan, yang penting sesaji dapat merupakan lambang bahasa lahiriah untuk mewakili pikiran dan perasaan yang tidak mampu sepenuhnya terwakili oleh bahasa verbal. Di sini sesaji merupakan perwujudan nilai sathyam, siwam, sundaram (kebenaran, kebajikan, dan keindahan). Pemaksaan bentuk sesaji seperti bentuk sesaji Bali akan menyebabkan umat Hindu Kaharingan merasa kebudayaannya dijajah oleh kebudayaan Bali. Bagaimanapun juga mereka tidak akan dapat menjiwai sesuatu bentuk sesaji versi Bali sebagaimana orang Bali menjiwai sesaji mereka sendiri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penolakan sebagian umat Hindu Kaharingan untuk bergabung dengan agama Hindu Dharma lebih disebabkan oleh pemaksaan unsure-unsur budaya Bali terhadap masyarakat Dayak. Pemaksaan unsur budaya Bali tersebut meliputi pemahaman sistem pantheon, bentuk tempat ibadah, bentuk sesaji, dan lain-lain. Dan sebagaimana telah diterangkan di atas, pemaksaan unsur-unsur budaya Bali tersebut sebenarnya justru menyalahi dan ajaran Hindu Dharma.
Masalah-Masalah yang Muncul Bila Hindu Kaharingan Berdiri Sebagai Agama Tersendiri.
Kepercayaan Kaharingan pada saat ini masih tergolong dalam Agama Tradisi Kecil. Ajaran-ajaran kepercayaan Kaharingan selama ini hanya diikuti oleh sebagian masyarakat Suku Dayak. Selain Suku Dayak tidak ada suku yang menganut kepercayaan Kaharingan. Dengan kata lain ajaran kepercayaan Kaharingan pada saat ini belum dapat menembus lintas batas kebudayaan antar bangsa, sebagaimana yang diisyaratkan dalam agama-agama tradisi besar. Sebagian dari masyarakat Dayak sendiri telah memeluk salah satu agama tradisi besar, seperti Islam, Kristen, dan Khatolik; sebagian lagi dari mereka yang memeluk kepercayaan Kaharingan memilih tetap bergabung dengan Hindu Dharma. Dengan demikian hanya sebagian kecil saja dari masyarakat Dayak sendiri yang mendukung agar kepercayaan Kaharingan diangkat sebagai agama baru yang diakui secara resmi oleh pemerintah. Jumlah pemeluk Hindu Kaharingan pada saat ini diperkirakan mencapai 1,4 juta jiwa yang tersebar di 4 propinsi di Kalimantan, yaitu ; Kalimantan Tengah 300 ribu jiwa, Kalimantan Timur 450 ribu jiwa, Kalimantan Barat 650 ribu jiwa, dan Kalimantan Selatan 40 ribu jiwa.
Sampai saat ini kepercayaan Kaharingan juga belum mempunyai kitab suci dan nabi/tokoh pendiri agama yang telah diakui, disahkan, dan digunakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat Dayak. Walaupun harus diakui bahwa sebenarnya banyak tokoh Dayak yang mempunyai kearifan untuk memberikan ajaran dan kemampuan supranatural setingkat dengan nabi, tetapi tidak didokumentasikan dengan baik melalui teks-teks suci. Ajaran kepercayaan Kaharingan selama ini hanya dilakukan secara lisan dan turun-temurun. Usaha menyusun kitab suci sudah pernah dilakukan, antara lain dalam Pertemuan Adat Dayak Uud Danum di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah, pada tahun 1894. Dalam pertemuan tersebut telah berhasil disusun buku pedoman hukum adat masyarakat Uud Danum, yang lebih dikenal dengan sebutan Kitab Panaturan atau Buku Merah karena sampulnya berwarna merah. Dengan belum adanya kitab suci dan nabi yang disahkan dan yang diakui bersama-sama dalam musyawarah adat, maka penganut kepercavaan Kaharingan akan semakin sulit bertahan terhadap misi misi agama-agama tradisi besar, yang secara agresif berupaya menarik masyarakat “yang belum beragama” ke dalam agama mereka. Apalagi sasaran misi agama-agama ini adalah generasi muda Dayak yang belum sepenuhnya mampu memahami ajaran-ajaran kepercayaan Kaharingan yang diwariskan dari orangtua mereka. Dalam kerangka berpikir generasi muda yang berkembang dewasa ini adalah bahwa agama yang berasal dari Tuhan adalah agama yang mempunyai nabi, nabi tersebut mendapatkan wahyu dari Tuhan, dan nabi tersebut kemudian menuliskan wahyu-wahyu tersebut di dalam teks suci. Dengan kerangka berpikir yang demikian tentu dengan mudah akan dibawa masuk ke agama yang dibawa oleh kaum misionaris agama-agama tradisi besar.
Berkaitan dengan penjelasan di atas akan berbeda halnya bila penganut Hindu Kaharingan tetap bergabung dalam agama Hindu Dharma. Meskipun “tidak memiliki seorang nabi yang secara dogmatis harus diakui keberadaannya oleh penganutnya”, agama Hindu Dharma tetap digolongkan ke dalam agama-agama tradisi besar. Ajaran Hindu Dharma telah menembus batas-batas kebudayaan bangsa dan diakui oleh dunia. Dengan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma, maka posisi umat Hindu Kaharingan relatif lebih aman terhadap tekanan-tekanan misionaris agama lain. Pembinaan keagamaan genenasi muda Dayak tetap dapat dilakukan dengan mengacu pada Kitab Suci Weda yang diakui secara universal oleh pemeluk Hindu di dunia. Sedangkan pelaksanaan upacara-upacara keagamaan tetap dapat dilangsungkan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Dayak. Dalam hal ini, PHDI diharapkan dapat berbertah din agar dapat memberikan pembinaan yang sesuai dengan kondisi umat Hindu Hindu Dharrna di luar Suku Bali, terutama dalam penyelenggaraan upacara-upacara keagamaan. Dengan ikut melestarikan nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Dayak, maka ciri khas agama Hindu Dharma yang ditandai dengan keanekaragaman pelaksanaan upacara-upacaranya pada tiap-tiap suku di Indonesia akan semakin terwujud.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka perlu dilakukan pembinaan umat Hindu Kaharingan yang ingin memisahkan diri dari agama Hindu Dharma yang pada saat ini sudah diakui secara resmi oleh pemerintah. Dengan pembinaan tersebut, mereka akan mempunyai pemahaman yang sejalan dengan sesama umat Hindu Kaharingan yang tetap menginginkan bergabung dengan agama Hindu Dharma. Di samping itu PHDI perlu berbenah diri agar tidak terjadi “pemaksaan budaya Bali” terhadap pelaksanaan upacara-upacara keagamaan umat Hindu Dharma dan suku-suku di luar Bali.
Pemerintah juga diharapkan dapat menangguhkan terlebih dahulu keinginan sebagian dari umat Hindu Kaharingan untuk memisahkan diri dari agama Hindu Dharma. Pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Apabila akan banyak hal-hal yang merugikan bagi umat Hindu Kaharingan itu sendiri bila telah berdiri sebagai agama tersendiri, maka permintaan sebagian umat Hindu Kaharingan tersebut terpaksa tidak dapat dipenuhi, yang mana berarti mereka tetap harus bergabung dengan agama Hindu Dharma.•
(berdasarkan sesuai dengan Tulisan dari Budiana Setiawan, Jakarta. PHDI)
- Reinkarnasi : didalam Hindu dan Kaharingan terdapat kepercayaan tentang adanya reinkarnasi yaitu roh- roh yang sudah meninggal dapat lahir kembali, bisa kembali menjadi manusia, binatang, tumbuhan, atau pada benda- benda mati, seperti bebatuan, sungai, puncak, gunung- gunung, dan sebagainya. Pernah saya bersama Kakek masuk kedalam hutan untuk mencari tumbuhan yang nanti akan dijadikan sebagai ramuan obat penyakit, kakek bilang sebelum kita memetik dedaunan, akar- akaran atau apapun itu, kita harus meminta ijin terlebih dahulu, karena menurutnya setiap apa yang ada di alam ini memiliki roh dan penunggunya. Bila tidak meminta ijin, maka nantinya roh tersebut bisa murka, dan ramuan yang kita petik tidak akan berfungsi atau manjur.
- Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur : dari perjalanan yang pernah saya lalui khususnya dari daerah murung raya, sampai dengan wilayah kotawaringin barat dan sekitarnya, terdapat tiga macam tradisi dalam memperlakukan jenazah yang sudah meninggal dalam kepercayaan kaharingan, yaitu dikubur dalam tanah, disemayamkan diatas tanah atau pohon didalam hutan dan dikremasi. Tapi suku Dayak Ngaju biasanya jenazahnya dikuburkan terlebih dahulu, setelah beberapa tahun digali lalu di bakar. Upacara ini memiliki persamaan dengan di Bali di mana jenazah orang yang meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah, atau disemayamkan di atas tanah. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. Sedangkan di Bali arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga).
- Pemujaan kepada alam : hutan adalah alam yang paling berarti dan dibanggakan oleh masyarakat suku Dayak, manfaat hutan bagi suku Dayak adalah sebagai tempat tinggal Dewa penguasa hutan dan arwah nenek moyang yang melindungi manusia. Selain itu hutan juga sebagai sumber mata pencahrian bagi kehidupan karena dapat memberikan kebutuhan sandang dan pangan, seperti berburu binatang dan pencarian makanan di hutan. Sedangkan di bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam masih berjalan lestari sampai saat ini, seperti upacara Tawur Agung, Panca Wali Krama, Eka Dasa Rudra, dan sebagainya.
Setelah bergabung dengan agama Hindu Dharma, maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan, yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu Dharma. Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di Indonesia.
Setelah reformasi yang menggantikan keruntuhan orde baru, mulai lah muncul perpecahan- perpecahan diantara umat Hindu kaharingan. ada yang masih tetap ingin bergabung dengan agama Hindu, da ada juga yang menyatakan bahwa Hindu Kaharingan adalah agama yang berdiri sendiri dan terpisah dari agama Hindu Dharma. Saat ini mereka yang menganggap tidak tergabung dalam agama hindu telah berjuang memperjuangkan kepada Pemerintah agar Kaharingan bisa diakui sebagai agama resmi oleh Negara Indonesia, terlihat dari beberapa majelis wadah umat hindu Kaharingan seperti Majelis Hindu Kaharingan dan Badan Agama kaharingan Dayak Indonesia (BAKDI).
ntara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. Pihak yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Di pihak lain, sebagian dari mereka menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan.
Konsep-Konsep Upacara dalam Ajaran Hindu Dharma
Di dalam ajaran agama Hindu Dharma, upacara-upacara keagamaan terbagi dalam lima kelompok besar, atau sering disebut dengan Panca Yadnya. Kelima kelompok hesar tersebut adalah:
a) Dewa Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh manifestasinya (perwujudan Tuhan dalam bentuk dewa-dewa);
b) Rsi Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi, pandita, nabi atau kaum ulama, karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci kepada manusia.
c) Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran manusia
d) Manusa Yadnya, yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia, seperti kehamilan, kelahiran, perkawinan, dan kematian.
e) Bhuta Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta, seperti gunung, laut, sungai, dan sebagainya. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan manusia, yaitu makhluk halus, binatang dan tumbuhan.
Di samping konsep Panca Yadnya, ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana, yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Upacara adalah sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di dalam Tri Hita Karana tersebut. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan; upacara Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan manusia; sedangkan Bhuta Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta. Dengan demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita Karana.
Upacara-upacara dan hari-hari besar keagamaan dalam agama-agama tradisi besar, yang sering disebut dengan hari raya, biasanya diperirtgati oleh seluruh umatnya dan berbagai suku bangsa di dunia tanpa kecuali. Di dalam agama Islam dikenal hari raya Maulud Nabi, Idul Adha, dan Idul Fitri; di dalam agama Kristen dan Katholik dikenal hari raya Natal dan Paskah; dan di dalam agama Budha dikenal hari raya Waisak. Berbeda dengan agama-agama tradisi besar lainnya, agama Hindu tidak mengenal doktrin yang menegaskan adanya hari-hari besar keagamaan yang harus diyakini dan diperingati oleh umatnya dari berbagai suku bangsa di dunia. Hari-hari besar keagamaan Hindu Dharma ditentukan sepenuhnya oleh kebijakan lokal dengan berdasarkan konsep Desa, Kala, Patra (Tempat, Waktu dan Kondisi). Dengan mengacu pada konsep Desa, Kala, Patra tersebut, maka peringatan hari-hari besar keagamaan Hindu antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya menjadi berbeda-beda, misalnya umat Hindu keturunan India mengenai hari raya Dipavali, umat Hindu Suku Bali mengenai hari raya Galungan Kuningan, dan umat Hindu Suku Tengger mengenal hari raya Kasada. Penekanan ajaran Hindu Dharma tidak ada penyeragaman hari-hari raya besar keagamaan, yang harus diakui oleh umat-umat Hindu di luar Bangsa India, tetapi pada penghayatan terhadap makna dan hakekat dan upacara-upacara tersebut, yang dalam hal ini telah dijabarkan di atas, yaitu dalam konsep panca yadnya, Tri hita karana, dan desa kala patra.
Upacara Kematian Suku Dayak Dilihat dan Sudut Pandang Agama Hindu Dharma
Di dalam ajaran Hindu Dharma, manusia dan juga benda-benda fisik lainnya di alam semesta, terdini dan lirna unsur dasar, atau yang disebut dengan Panca Maha Bhuta, yaitu unsur air, api, angin, tanah, dan akasa (hampa udara/ruang kosong). Apabila seseorang meninggal dunia, maka unsur-unsur penyusun tubuhnya kembali ke unsur-unsur dasar tersebut. Kematian Seseorang menimbulkan kewajiban bagi orang-orang yang masih hidup untuk melakukan serangkaian upacara untuk mempenlakukan jenazah, yang mana tujuannya adalah agar badan jasmaninya dapat segera dikembalikan ke unsur Panca Maha Bhuta dan atmannya dapat segera bersih dan kembali kepada Tuhan. Usaha untuk mengembalikan tubuh orang yang telah meninggal kepada unsur Panca Maha Bhuta dan atmannya dapat segera bersih dan kembali kepada Tuhan. Usaha untuk mengembalikan tubuh orang yang telah meninggal kepada unsur Panca Maha Bhuta dapat dilakukan dengan cara dikremasi (kembali ke unsun api), dikubur di dalam tanah (kembali ke unsur tanah), dilarung ke sungai atau laut (kembali ke unsun air), atau disemayamkan di atas tanah/pohon (kembali ke unsur udana). Semua jenis upacara kematian tersebut adalah benar menurut pandangan Hindu apabila Dharma dihantarkan dengan upacara-upacara untuk membersihkan arwahnya dan kekotoran perbuatannya selama di dunia, agar dapat segera kembali kepada alam Ketuhanan.
Pada Suku Dayak, arwah atau atman lelahur yang telah diupacarai dengan bersemayam di puncak-puncak pegunungan. Sebagai arwah-arwah yang telah suci dan berada di alam Tuhan, mereka dapat dipanggil kembali untuk dimintai pertolongan apabila manusia, khususnya keturunannya, menemui kesulitan-kesulitan. Dalam hal ini bukan berarti mereka tidak percaya terhadap pertolongan Tuhan. Pertolongan Tuhan akan datang melalui perantara arwah leluhur yang telah disucikan tersebut. Kepercayaan terhadap kekuatan arwah leluhur ini menimbulkan upacara-upacara pemujaan kepada arwah leluhur, yang mana di dalam ajaran agama Hindu Dharma disebut dengan Pitra Yadnya.
Para misionaris agama-agama tradisi besar pada umumnya menganggap upacara pemujaan terhadap arwah leluhur sebagai sesuatu tindakan yang tidak masuk akal dan melanggar konsep pemujaan kepada Tuhan. Oleh karena itu banyak dan para misionaris agamaagarria tradisi besar di dalam melakukan “pembinaan umat” berusaha menghapuskan jenis-jenis upacara seperti ini dan masyarakat Suku Dayak. Tindakan untuk menghapus upacara-upacara pemujaan arwah leluhur tanpa memahami makna di balik upacara tersebut, sebenamya justru akan menghapuskan satu mata rantai nilai-nilai budaya Suku Dayak, namun hal-hal seperti ini pada umumnya tidak disadari oleh para misionaris.
Kepercayaan terhadap Makhluk Halus dan Roh Penunggu pada Suku Dayak Menurut Pandangan Hindu Dharma.
Upacara “pemujaan” terhadap makhluk-makhluk halus atau roh-roh penunggu adalah termasuk di dalam jenis upacara Bhuta Yadnya. Upacara Bhuta Yadnya dalam ajaran Hindu Dharma adalah bertujuan untuk membersihkan suatu tempat beserta isinya dari kekuatan negatif yang dapat menyebabkan malapetaka bagi manusia. Upacara Bhuta Yadnya sebenarnya tidak dilandasi oleh “rasa takut” terhadap makhluk-makhluk halus dan roh-roh penunggu. Makhluk-makhluk halus dan roh-roh penunggu tersebut dihayati sebagai ciptaan Tuhan juga yang mempunyai hak untuk hidup sebagaimana halnya manusia. Oleh karena itu, apabila karena sesuatu hal manusia terpaksa mengusik kehidupan mereka, misalnya membuka hutan untuk perladangan atau menebang pohon besar untuk diambil kayunya, maka dilakukan upacara untuk “meminta maaf” karena tempat tinggalnya diusik untuk kepentingan manusia. Upacara yang dilakukan di sini bukan sebagai pemujaan terhadap makhluk-makhluk halus tersebut, melainkan sebagai wujud etika dan kasih sayang (tat twam asi) terhadap sesama hidup dan usaha mewujudkan kehidupan yang harmonis. Apabila manusia mengusik tempat tinggal mereka tanpa mengindahkan etika kehidupan bersama dan kasih sayang, maka akan menimbulkan amarah bagi makhluk-makhluk tersebut. Dengan demikian mereka ganti akan mengganggu kehidupan manusia yang tidak mengindahkan etika tersebut. Hal ini yang dilihat sebagai malapetaka atau kesialan yang dialami manusia.
Penerapan Ajaran Hindu Dharma dalam Kepercayaan Kaharingan
Konsekuensi logis dari masuknya kepercayaan Kaharingan di dalam agama Hindu Dharma adalah kewajiban bagi PHDI selaku majelis tertinggi agama Hindu Dharma untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat Dayak. Di dalam pembinaan ini mereka diperkenalkan dengan sistem pantheon (ketuhanan), hari-hari besar keagamaan, serta sarana dan prasarana upacara agama Hindu Dharma. Pada kenyataannya, yang digunakan sebagai model dengan adat dan tradisi umat Hindu Suku Bali. Persoalan menjadi muncul ketika praktik-praktik keagamaan masyarakat Dayak akhirnya mulai didominasi oleh praktek keagamaan Hindu etnis Bali, seperti pembuatan tempat ibadah yang mengacu pada bentuk-bentuk pura yang ada di Bali, sesaji yang didominasi oleh bentuk sesaji Bali, pakaian adat Bali, dan sebagainya. Sementara itu sejak dahulu masyarakat Dayak telah memiliki sistem pantheon tersendiri, tempat ibadah sendiri, dan bentuk sesaji tersendiri yang berbeda jauh dengan bentuk sesaji yang ada di Bali. Untuk menjawab permasalahan ini, perlu untuk memahami bagaimana sistem pantheon, tempat ibadah, dan sesaji menurut Hindu Dharma.
a. Sistem Pantheon Hindu
Pandangan Ketuhanan di dalam Hindu tidak dapat disebut monoteisme maupun politeisme. Max Muller, Seorang peneliti Barat, menyebut pandangan Ketuhanan dalam Hindu adalah Henoteisme, yaitu kepercayaan terhadap Tuhan sebagai Yang Esa dalam Yang Banyak. Semua dewa dihayati sebagai satu wujud, yaitu sebagai Ekam (Yang Esa). Dengan pandangan ini, maka Hindu memuja satu Tuhan dalam banyak wujud. Oleh karena itu Tuhan dalam Hindu dapat disebut dengan nama dewa-dewa, seperti Brahma, Wisnu, Siwa, Durga, Sang Hyang Widhi, dan sebagainya. Berdasarkan pandangan tersebut, maka sebenarnya tidak menjadi permasalahan bila sistem pantheon kepercayaan Kaharingan masuk di dalam ajaran Hindu Dharma, di mana Tuhan juga dapat disebut dengan nama Mahatara atau Ranying Mahatalla Langit, nama dewa tertinggi Suku Dayak.
b. Rumah Ibadah
Rumah ibadah masyarakat Suku Dayak disebut dengan Rumah Panjang atau Balai Kaharingan. Masyarakat Dayak memiliki naluri untuk selalu hidup bersama. Mereka suka hidup damai dalam komunitas yang harmonis, yang terwujud dalam kehidupan bersama di dalam rumah panjang. Rumah panjang menggambarkan keakraban hubungan keluarga dan masyarakat, serta memperkuat kesatuan dalam kegiatan ekonomi. Ketika kebijakan pembangunan mendorong masyarakat pedalaman untuk berubah, maka perubahan juga terjadi pada pola tempat tinggal masyarakat Dayak, dari rumah panjang sebagai tempat tinggal komunal menjadi rumah-rurnah tunggal sebagai tempat tinggal keluarga inti. Rumah panjang akhirnya ditinggalkan, yang berarti hilang pula fungsinya untuk menjalin keakraban dan memperkuat kesatuan masyarakat Dayak. Satu-satunya sarana untuk tetap dapat menjalin keakraban dan memperkuat kesatuan adalah dengan upacara-upacara adat yang dipusatkan di rumah-rumah panjang. Oleh karena itu rumah panjang menjadi bangunan yang bernilai penting bagi masyarakat Dayak. Melihat sejarah rumah panjang yang semula untuk tempat tinggal komunal dan sekarang hanya untuk kegiatan upacara maka tidak tepat apabila PHDI menerapkan konsep pura sepenti yang ada di Bali kepada masyarakat Dayak. Pemaksaan budaya untuk mendirikan pura lengkap dengan pembagian mandala-mandalanya akan semakin menghilangkan fungsi rumah panjang tersebut. Oleh karena itu dengan tetap berlandaskan pada konsep desa, kala, dan patra, maka rumah panjang sebagai bangunan tempat ibadah untuk umat Hindu Kaharingan hendaknya tetap dipertahankan.
c. Sesaji sebagai Sarana Upacara
Sesaji merupakan sarana upacara yang hampir selalu diadakan dalam upacara keagamaan Hindu Dharma. Berdasarkan lontar Yadnya Prakerti, sesaji merupakan simbol dari tiga hal, yaitu:
1) lambang diri orang atau kelompok yang menghaturkan sesaji;
2) lambang manifestasi Tuhan yang akan dipuja;
3) lambang alam semesta.
Dengan demikian sesaji juga mengandung nilai-nilai Tri Hita Karana. Sesaji juga bukan merupakan makanan untuk disuguhkan kepada Tuhan, tetapi sebagai bahasa simbol untuk menyampaikan rasa keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Tuhan.
Sebagaimana diakui oleh PHDI, sesaji sebagai sarana upacara berbedabeda dan tiap-tiap etnis. Misalnya sesaji yang ditujukan kepada Tuhan oleh orang Bali disebut dengan Daksina, terbuat dari daun lontar yang di dalamnya diisi dengan kelapa, beras, telur, bumbu dapur, dan bunga-bungaan. Sedangkan sesaji orang Dayak disebut Sakai Pulang, yang secara harfiah berarti pohon senjata. Sesaji ini merupakan rangkaian tumbuhan hasil hutan, rotan, dan senjata. Perbedaan bentuk sesaji tidaklah dipersoalkan, yang penting sesaji dapat merupakan lambang bahasa lahiriah untuk mewakili pikiran dan perasaan yang tidak mampu sepenuhnya terwakili oleh bahasa verbal. Di sini sesaji merupakan perwujudan nilai sathyam, siwam, sundaram (kebenaran, kebajikan, dan keindahan). Pemaksaan bentuk sesaji seperti bentuk sesaji Bali akan menyebabkan umat Hindu Kaharingan merasa kebudayaannya dijajah oleh kebudayaan Bali. Bagaimanapun juga mereka tidak akan dapat menjiwai sesuatu bentuk sesaji versi Bali sebagaimana orang Bali menjiwai sesaji mereka sendiri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penolakan sebagian umat Hindu Kaharingan untuk bergabung dengan agama Hindu Dharma lebih disebabkan oleh pemaksaan unsure-unsur budaya Bali terhadap masyarakat Dayak. Pemaksaan unsur budaya Bali tersebut meliputi pemahaman sistem pantheon, bentuk tempat ibadah, bentuk sesaji, dan lain-lain. Dan sebagaimana telah diterangkan di atas, pemaksaan unsur-unsur budaya Bali tersebut sebenarnya justru menyalahi dan ajaran Hindu Dharma.
Masalah-Masalah yang Muncul Bila Hindu Kaharingan Berdiri Sebagai Agama Tersendiri.
Kepercayaan Kaharingan pada saat ini masih tergolong dalam Agama Tradisi Kecil. Ajaran-ajaran kepercayaan Kaharingan selama ini hanya diikuti oleh sebagian masyarakat Suku Dayak. Selain Suku Dayak tidak ada suku yang menganut kepercayaan Kaharingan. Dengan kata lain ajaran kepercayaan Kaharingan pada saat ini belum dapat menembus lintas batas kebudayaan antar bangsa, sebagaimana yang diisyaratkan dalam agama-agama tradisi besar. Sebagian dari masyarakat Dayak sendiri telah memeluk salah satu agama tradisi besar, seperti Islam, Kristen, dan Khatolik; sebagian lagi dari mereka yang memeluk kepercayaan Kaharingan memilih tetap bergabung dengan Hindu Dharma. Dengan demikian hanya sebagian kecil saja dari masyarakat Dayak sendiri yang mendukung agar kepercayaan Kaharingan diangkat sebagai agama baru yang diakui secara resmi oleh pemerintah. Jumlah pemeluk Hindu Kaharingan pada saat ini diperkirakan mencapai 1,4 juta jiwa yang tersebar di 4 propinsi di Kalimantan, yaitu ; Kalimantan Tengah 300 ribu jiwa, Kalimantan Timur 450 ribu jiwa, Kalimantan Barat 650 ribu jiwa, dan Kalimantan Selatan 40 ribu jiwa.
Sampai saat ini kepercayaan Kaharingan juga belum mempunyai kitab suci dan nabi/tokoh pendiri agama yang telah diakui, disahkan, dan digunakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat Dayak. Walaupun harus diakui bahwa sebenarnya banyak tokoh Dayak yang mempunyai kearifan untuk memberikan ajaran dan kemampuan supranatural setingkat dengan nabi, tetapi tidak didokumentasikan dengan baik melalui teks-teks suci. Ajaran kepercayaan Kaharingan selama ini hanya dilakukan secara lisan dan turun-temurun. Usaha menyusun kitab suci sudah pernah dilakukan, antara lain dalam Pertemuan Adat Dayak Uud Danum di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah, pada tahun 1894. Dalam pertemuan tersebut telah berhasil disusun buku pedoman hukum adat masyarakat Uud Danum, yang lebih dikenal dengan sebutan Kitab Panaturan atau Buku Merah karena sampulnya berwarna merah. Dengan belum adanya kitab suci dan nabi yang disahkan dan yang diakui bersama-sama dalam musyawarah adat, maka penganut kepercavaan Kaharingan akan semakin sulit bertahan terhadap misi misi agama-agama tradisi besar, yang secara agresif berupaya menarik masyarakat “yang belum beragama” ke dalam agama mereka. Apalagi sasaran misi agama-agama ini adalah generasi muda Dayak yang belum sepenuhnya mampu memahami ajaran-ajaran kepercayaan Kaharingan yang diwariskan dari orangtua mereka. Dalam kerangka berpikir generasi muda yang berkembang dewasa ini adalah bahwa agama yang berasal dari Tuhan adalah agama yang mempunyai nabi, nabi tersebut mendapatkan wahyu dari Tuhan, dan nabi tersebut kemudian menuliskan wahyu-wahyu tersebut di dalam teks suci. Dengan kerangka berpikir yang demikian tentu dengan mudah akan dibawa masuk ke agama yang dibawa oleh kaum misionaris agama-agama tradisi besar.
Berkaitan dengan penjelasan di atas akan berbeda halnya bila penganut Hindu Kaharingan tetap bergabung dalam agama Hindu Dharma. Meskipun “tidak memiliki seorang nabi yang secara dogmatis harus diakui keberadaannya oleh penganutnya”, agama Hindu Dharma tetap digolongkan ke dalam agama-agama tradisi besar. Ajaran Hindu Dharma telah menembus batas-batas kebudayaan bangsa dan diakui oleh dunia. Dengan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma, maka posisi umat Hindu Kaharingan relatif lebih aman terhadap tekanan-tekanan misionaris agama lain. Pembinaan keagamaan genenasi muda Dayak tetap dapat dilakukan dengan mengacu pada Kitab Suci Weda yang diakui secara universal oleh pemeluk Hindu di dunia. Sedangkan pelaksanaan upacara-upacara keagamaan tetap dapat dilangsungkan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Dayak. Dalam hal ini, PHDI diharapkan dapat berbertah din agar dapat memberikan pembinaan yang sesuai dengan kondisi umat Hindu Hindu Dharrna di luar Suku Bali, terutama dalam penyelenggaraan upacara-upacara keagamaan. Dengan ikut melestarikan nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Dayak, maka ciri khas agama Hindu Dharma yang ditandai dengan keanekaragaman pelaksanaan upacara-upacaranya pada tiap-tiap suku di Indonesia akan semakin terwujud.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka perlu dilakukan pembinaan umat Hindu Kaharingan yang ingin memisahkan diri dari agama Hindu Dharma yang pada saat ini sudah diakui secara resmi oleh pemerintah. Dengan pembinaan tersebut, mereka akan mempunyai pemahaman yang sejalan dengan sesama umat Hindu Kaharingan yang tetap menginginkan bergabung dengan agama Hindu Dharma. Di samping itu PHDI perlu berbenah diri agar tidak terjadi “pemaksaan budaya Bali” terhadap pelaksanaan upacara-upacara keagamaan umat Hindu Dharma dan suku-suku di luar Bali.
Pemerintah juga diharapkan dapat menangguhkan terlebih dahulu keinginan sebagian dari umat Hindu Kaharingan untuk memisahkan diri dari agama Hindu Dharma. Pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Apabila akan banyak hal-hal yang merugikan bagi umat Hindu Kaharingan itu sendiri bila telah berdiri sebagai agama tersendiri, maka permintaan sebagian umat Hindu Kaharingan tersebut terpaksa tidak dapat dipenuhi, yang mana berarti mereka tetap harus bergabung dengan agama Hindu Dharma.•
(berdasarkan sesuai dengan Tulisan dari Budiana Setiawan, Jakarta. PHDI)
Langganan:
Postingan (Atom)