Minggu, 20 November 2011

KASTA DALAM AGAMA HINDU

“Saya menyukai sejarah, maka oleh sebab itu saya mempelajari sejarah, tapi bukan berarti adalah ahli sejarah atau sejarawan, karena saya hanya tertarik dan ingin mengetahui tentang sejarah yg penting sebagai penentu arah”. Nix.

Sengaja saya menyampaikan kata-kata diatas sebagai pedoman disiplin ilmu yg saya minati dengan batasan- batasan pengetahuan dan tulisan dari seseorang yang hanya menyukai dan ingin tahu tentang ilmu tersebut, yaitu sejarah. Karena kurangnya pengetahuan saya tentang Agama Hindu, jadi mungkin Wajar bila saya salah, tapi sangatlah tidak wajar bila saya tidak menanyakan dimana letak kesalahannya.

Dari diskusi dan pembicaraan beberapa hari yang lalu tentang Agama Hindu dan kaharingan yang tertuju pada satu pembahasan, yaitu mengenai “KASTA”. Beberapa mengatakan bahwa Kasta tidak pernah ada di dalam Agama Hindu, dan beberapa lagi mengatakan bahwa kasta memang ada di Agama Hindu. Memang sudah bisa didapatkan kesimpulan (sementara) bahwa kasta memang tidak ada di Agama hindu, yang ada hanyalah Caturvarna/warna seperti yang terdapat pada strata social hindu bali khususnya. Nah disini saya mulia bertanya- Tanya keras dari apa yang saya ketahui, memang ini henyalah sebuah kata yang mengandung banyak pemahaman, atau bisa saja satu tujuan. Dari berbagai buku yang saya pernah baca, seperti tentang “Agama Hindu dan Budha karya Dr.harun Widjanarko; Sejarah Nusantara; Sejarah Kerajaan- kerajaan Hindu di Indonesia; perkembangan Agama hindu dan kebudayaan hindu budha di Indonesia ( I Wayan Badrika ) bahkan pada buku Paket Sejarah SMA Kls XI terbitan Erlangga, Tulisan tentang Panaturan Kitab Suci Hindu Kaharingan ( Ngurah Nala ), Hindu Kaharingan ( Budiana Setiawan )dan lain- lain, beberapa (khususnya dalam buku ajar) ,mengatakan kata “Kasta”. Dari berbagai buku diatas saya coba rangkumkan sebagai berikut.

AGAMA HINDU

Agama Hindu merupakan Sinkretisme (percampuran) antara kepercayaan bangsa Arya dengan kepercayaan bangsa Dravida, sifatnya Polytheisme, yaitu perrcaya terhadap banyak Dewa. Tiap- tiap Dewa merupakan lambing kekuatan terhadap alam, sehingga perlu disembah atau dipuja dan atau dihirmati. Beberapa Dewa yg terkenal seperti PRATIVI sebagai Dewa bumi, SURYA sebagai Dewa matahari, VAYU sebagai Dewa angina, VARUNA sebagai Dewa laut, AGNI sebgai Dewa api.

Dalam agama Hindu diajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu penderitaan atau kesengsaraan (SAMSARA), akibat perbuatan (KARMA) yang kurang baik pada masa sebelumnya. Manusia yg dilahirkan kembali (REINKARNASI) memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri, sehingga pada kelahiran berikutnya dapat dilahirkan ke dalam “KASTA” yg lebih tinggi. Sebaliknya jika berbuat jahat ia akan dilahirkan kembali dlam “KASTA” yg lebih rendah atau dilhirkan menjadi binatang.

Seseorang yg telah sempurna hidupnya dapat mencapai MOKSA, yaitu lepas dari SAMSARA, atau meninggal tanpa meninggalkan jasmaninya. Mereka yg telah mencapai moksa, tdk dilahirkn kembali, tp tinggal abadi di NIRWANA (surga).

Disamping kitab WEDA juga dikenal kitab BRAHMANA dan kitab UPANISAD. Kitab Brahmana merupakan tafsir kitab WEDA, sedangkan kitab UPANISAD berisi ajaran tentang cara- cara menghindarkan diri dari samsara.

Sekitar abad ke-6 SM, Agama Hindu mengalami kemunduran, yg disebabkan oleh dua faktor, yaitu :
1. Kaum Brahmana yang memonopoli upacara keagamaan membuat sebagian dari mereka bertindak sewenang- wenang, seperti memastikan banyaknya korban yang harus diberikan seseorang, sehingga menimbulkan beban berat bagi rakyat kecil. Mereka merasa berkuasa atas segala- galanya, karena “KASTA”nya merupakan “KASTA” yang tertinggi. Hal- hal seperti itu dapat menimbulkan rasa anti agama.
2. Timbulnya golongan yang berusaha mencari jalan sendiri untuk mencapai hidup abadi yang sejati. Golongan ini disebut golongan BUDDHA yang dihimpun oleh Sidharta.

Penyiaran Agama Hindu di Indonesia

Proses masuknya agama Hindu di Indonesia dibawa oleh pedagang, baik pedagang india yang dating ke Indonesia maupun pedagang Indonesia yang dating ke india. Akan tetapi di lain pihak terdapat beberapa teory yg berbeda tentang penyebaran agama Hindu di indonesia, diantaranya :
- Teori Sudra , menyatakan bahwa penyebaran agama hindu ke Indonesia dibawa oleh orang- orang India yang berkasta Sudra, karena mereka dianggap sebagai orang- orang buangan.
- Teory waisya, menyatakan bahwa penyebarannya dilakukan oleh orang- orang india berkasta Waisya, karena terdiri dari pedagang yg dating dan menetap di Indonesia. Bahkan, banyak diantara pedagang tersebut yang menikah dengan orang- orang Indonesia.
- Teori Ksatria, menyatakan bahwa penyebarannya dibawa oleh orang – orang India berkasta Ksatria. Hal ini disebabkan karena terjadinya kekacauan politik di India, sehingga ksatria yg kalah melarikan diri ke Indonesia. Mereka lalu mendirikan kerajaan- kerajaan dan menyebarkan agama Hindu.
- Teori Brahmana, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu di Indonesia dilakukan oleh kaum Brahmana, kedatangan mereka ke Indonesia untuk memenuhi undangan kepala suku yang tertarik dengan agama Hindu. Kaum Brahmana yang yg dating ke Indonesia inilah yang mengajarkan agama Hindu kepada masyarakat Indonesia.
Dari keempat teori diatas, hanya teori Brahmana yang dianggap sesuai dengan bukti- bukti yang ada, bukti- bukti tersebut diantaranya :
- Agama Hindu bukan agama yang demokratis, karena urusan keagamaan menjadi monopoli kaum Brahmana, sehingga hanya golongan Brahmana yang mampu dan berhak menyiarkan agama Hindu.
- Prasasti Indonesia yg pertama berbahasa sansekerta, sedangkan di india sendiri bahasa itu hanya digunakan dalam kitab Suci dan upacara keagamaan. Jadi, hanya kaum Brahmana lah yang mengerti dan menguasai penggunaan bahasa tersebut.

Dari hal ini, semoga tepat bila saya mencoba mengangkat nya pada forum diskusi untuk mendapatkan masukan- masukan berupa argument- argument yang bisa membantu penjelasan tulisan diatas baik mengkritik dan menguatkan pernyataan dengan alasan yang tepat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it